Kampar | Rohul | Rohil | Inhu | Pelalawan | Pekanbaru | Meranti | Dumai | Siak | Inhil | Kuansing | Bengkalis
Kamis, 17/April/2014  
 
 
KPU Gelar Rapat Pleno Pilgubri Putaran II
Thanks gan infonya :) http://goo.gl/aEyi fe ... dikomentari oleh Sabun Arang Bambu
Dewan Minta CCTV di Ruas Jalan Diaktifkan
terimakasih infonya sangat bermanfaat http://goo.gl/ydMc qS ... dikomentari oleh OBAT STROKE
Riau Harus Buat Kurikulum Sendiri
Websitenya Bagus http://is.gd/RwJFw r ... dikomentari oleh jasa Seo murah
Produk Kayu Cukup Kantongi Sertifikat SVLK
بÙسÙÙÙÙÙÙ ÙÙÙÙÙÙÙÙÙ... dikomentari oleh obat keloid
 
Mahasiswa Riau Tolak Kenaikan BBM
Kenaikan BBM, Ironi Riau


Selasa, 18/06/2013 - 17:01:19 WIB
Demonstrasi Mahasiswa Riau di depan Bandara SSQ, Senin (17/6)
TERKAIT:
 
  • Komisi A DPRD Riau Batal ke Lima Desa
  • DPRD Riau Sebut MenPANRB Diskriminatif
  • Senator Riau Hearing Dengan Balai SDA
  • Polda Selidiki Kahutla Riau
  • Petani Karet Riau Merana
  • RAPP Gelar Safety Driving di Riau Komplek
  • PEKANBARU-Seratusan massa dari Aliansi Rakyat Riau Berdaulat (Arrib) berunjukrasa menolak kenaikan BBM, Senin (17/6/2013). Massa terdiri dari gabungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Riau, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Partai Rakyat Demoratik, Serikat Rakyat Miskin Indonesia dan Front Pembela Islam (FPI) Riau.

    Dalam menjalankan aksinya, massa bermain 'kucing-kucingan' dengan polisi yang mengamankan jalannya unjukrasa. Mahasiswa sengaja memecah diri menjadi beberapa kelompok.

    Satu kelompok sengaja menyegel sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di jalan Sudirman. Mereka mendatangi SPBU tersebut dengan mengusung spanduk besar dan bertariak agar pengelola menutup usaha mereka.

    Tuntutan ini sebagai respon atas rencana kenaikan BBM yang akan diberlakukan oleh pemerintah. Namun permintaan tersebut tidak dipenuhi pengelola. Massa kemudian meninggalkan lokasi tersebut, menuju DPRD Riau.

    Di DPRD Riau, massa memecah kelompok menjadi dua bagian. Satu bagian berada di depan pintu masuk dan sebagian lagi berada di pintu keluar. Di pintu gerbang keluar, massa aksi hampir berhasil merangsek masuk ke DPRD Riau. Beruntung, petugas yang melihat ini cepat tanggap dan memecah diri menjadi beberapa bagian.

    Belum cukup di situ, sekelompok massa kembali bergerak menuju Jalan Sudirman. Tanpa pengawalan, mereka berhasil membakar ban dan menariakkan 'tolak kenaikan BBM bersubsidi'.

    Kapolsek Bukit Raya, Kompol D Marpaung yang melihat aksinya ini, langsung menendang ban tadi. Sikap cepatnya ini sempat dihalangi dua orang massa aksi.

    "Provokator kau ya. Tolong amankan. Ini perintah," perintah Marpaung ke anggotanya sambil menarik satu orang yang diduga provokator.

    Selanjutnya, massa aksi yang tidak diketahui identitasnya dibawa ke mobil dan meluncur ke Polresta Pekanbaru. "Diamankan untuk sementara," sebut Marpaung.

    Dijelaskan Marpaung, tindakannya itu untuk mengamankan masyarakat yang melintas. "Kan kasihan masyarakat. Jalanan jadi macet dengan dibakarnya ban ini," sebutnya.

    "Kami tidak melarang berdemo. Silahkan saja. Yang penting jangan ganggu kelancaran jalan. Masyarakat bisa terganggu," sambung Marpaung.

    "Mengenai identitas kedua mahasiswa ini, biar petugas yang menginterogasinya. Hanya sebentar saja tu," pungkasnya.

    Puas berdemo di DPRD Riau, ratusan mahasiswa kemudian bergabung dan bergerak menuju Bandara Sutan Syarif Kasim II Pekanbaru. Mereka melakukan long march.

    Namun mahasiswa yang berencana memblokir bandara tidak berhasil melakukannya. Ratusan petugas polisi dan TNI sudah mengamankan objek vital itu. Walhasil massa hanya bisa berorasi di pintu masuk bandara yang sudah dipagar petugas.

    Gagal masuk ke bandara, massa aksi kembali mundur dan menuju ke MTQ Pekanbaru. Diperjalanan, setiap mobil berplat merah dan pengangkut BBM menjadi sasaran. Beruntung, petugas yang melihat ini berhasil membubarkan massa.

    Meski tidak anarkis, mahasiswa menegaskan tetap menolak rencana Pemerintahan Indonesia menaikkan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Mereka menilai rencana ini bakal menyengsarakan rakyat miskin dan berdampak luas bagi sendi kehidupan masyarakat.

    Dalam orasinya demonstran menyebutkan partai yang setuju menaikkan harga BBM bersusidi di DPR RI telah mengkhianati aspirasi rakyat Indonesia. Partai yang menyetujui itu partai koalisi pemerintah yakni Partai Demokrat, PPP, PKB dan Golkar, sedangkan yang menolak adalah PKS, PDIP, Hanura dan Gerindra.

    "Dengan demikian, kami meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk turun dari jabatannya. Hal ini sangat berdasar, presiden sudah tidak memikirkan nasib rakyat dan lebih mementingkan kepentingan konglemerasi," teriak Yopi Pranoto, Koordinator Umum (Kordum) Arrib.

    "Keputusan SBY menaikkan harga BBM dengan mengurangi subsidi jelas sekali merupakan keputusan konyol, karena tidak memperhatikan masyarakat kecil dan aspirasi rakyat," sambung Yopi.

    Pasalnya, tekan Yopi, dari hasil Lembaga Survei Nasional (LSN) yang dilakukan di 33 provinsi sudah memperlihatkan bahwa 86.1 persen rakyat tidak setuju dengan kenaikan harga BBM.

    "Hanya 12,4 persen yang setuju. Sedangkan 1,5 persen hasil survei menagatakan tidak tahu. Ini adalah aspirasi rakyat, kenapa ditentang SBY," sebut Yopi

    Lebih jauh disampaikannya Yopi, kenaikan harga BBM sarat nilai politis menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014. Kenaikan harga BBM bersubsidi menjadi ajang tawar menawar antara partai politik (parpol) menjelang pemilu mendatang.

    Padahal, sejak APBNP 2012 dan 2013, pemerintah sudah diberikan direksi untuk menyelesaikan harga BBM. Namun, pemerintah tidak berani menjalankan keputusan ini.

    Kesengsaraan seperti apa yang diakibatkan melambungnya harga BBM? Pertanyaan ini dijawab Yopi mamakai sebuah analogi. Yaitu, kehidupan masyarakat sangat bergantung ke bahan makanan pokok seperi beras, bawang dan lauk pauk.

    Ke semuanya itu, diangkut kendaraan dengan menggunakan BBM bersubsidi. Dengan naiknya BBM, otomatis harga pengakutannya jadi naik pula. "Akibatnya, bahan pokok yang diangkut menjadi naik dan tidak terjangkau masyarakat kecil," jelas Yopi.

    "Keadaan ini, tidak berbanding lurus dengan taraf kehidupan masyarakat yang diperhatikan pemerintah. Lowongan kerja sangat minim, pendidikan tidak memadai. Sehingga masyarakat termiskinkan. Oleh karena itu, kenaikan BBM sangat berdampak luas," sambung Yopi.

    Dinaikkannya harga BBM bersubsidi, semakin menjadi ironi khususnya bagi Rakyat Riau. Seharusnya, Riau tidak merasakan dampak yang akan ditimbulkan kenaikan ini.

    "Bagi Riau ini ironi. Riau merupakan penyumbang terbesar minyak mentah ke Indonesia. Sayang, minyak ini tidak diolah sendiri. Malahan pemerintah menyerahkannya ke perusahaan asing," terang Yopi.

    "Dan lucunya lagi, minyak olahan tadi dibeli lagi oleh Indonesia dengan harga yang lebih tinggi. Ini hanya untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri," sambung Yopi.

    Permasalahan mendasar ini, terang Yopi, hanya satu peyelesaiannya. Yaitu, nasionalisasi perusahaan minyak asing yang beroprasi di Indonesia, khususnya Riau. "Pemerintahan harus berani. Kalau tidak, kesengsaraan rakyat semakin mendalam," pungkas Yopi. better-syu.


    0 Komentar :

    Komentar Anda
    Nama
    Email
    Komentar



    (*Masukkan 6 kode diatas)

     
    Home | Daerah | Nasional | Politik | Kriminal | Pendidikan | Bisnis | Opini | Foto | Galeri | Index | Epaper
    Kampar | Rohul | Rohil | Inhu | Pelalawan | Pekanbaru | Meranti | Dumai | Siak | Inhil | Kuansing | Bengkalis
    Redaksi | Info Iklan
    © 2013 Koran Berita Terkini - Kritis, Tajam dan Berimbang, All Rights Reserved